Rahasia Ilahi Di Hari Jumat Temukan Ketenangan Di Masjidil Haram

Kegiatan21 Dilihat

Oleh ; Fadjar Budianto

Dosen Universitas 45 surabaya

Ada rahasia Ilahi yang terkadang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Ia hadir dalam keheningan doa, dalam air mata yang jatuh tanpa disadari, dan dalam hati yang tiba-tiba terasa begitu dekat dengan Allah SWT. Semua itu terasa istimewa ketika kita berada di Masjidil Haram, terlebih pada hari Jumat, hari yang mulia bagi umat Islam.

Jumat, 23 Oktober 2026

Di tengah jutaan manusia yang datang dari berbagai penjuru dunia, kita menyadari bahwa di hadapan Allah, jabatan, kekayaan, dan kehormatan dunia tidak lagi menjadi ukuran utama. Semua berdiri sebagai hamba, membawa dosa, harapan, penyesalan, dan doa yang mungkin selama ini hanya tersimpan di dalam hati.

**Inilah salah satu rahasia Ilahi: Allah mengajarkan kerendahan hati melalui kebesaran-Nya.**

Hari Jumat mengingatkan kita bahwa kehidupan bukan sekadar mengejar dunia, melainkan juga perjalanan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Di hadapan Ka’bah, hati seolah diajak bercermin. Sudahkah kita menjadi manusia yang lebih sabar? Sudahkah kita memaafkan mereka yang menyakiti kita? Sudahkah kita menggunakan umur, jabatan, dan rezeki untuk memberi manfaat kepada sesama?

Sepulang dari Tanah Suci, tantangan sesungguhnya justru dimulai. Jangan sampai air mata yang menetes di Masjidil Haram hanya menjadi kenangan, sementara perilaku kita kembali seperti dahulu. Ibadah semestinya melahirkan perubahan: hati yang lebih bersih, ucapan yang lebih santun, kejujuran yang lebih kuat, dan kepedulian yang semakin luas.

Barangkali, rahasia terbesar dari perjalanan spiritual bukanlah seberapa sering kita memandang Ka’bah, melainkan **seberapa jauh hati dan perilaku kita berubah setelah meninggalkannya.**

Ya Allah, sebagaimana Engkau memberi kesempatan kepada kami untuk bersujud di rumah-Mu pada hari yang mulia ini, tuntunlah kami agar tetap dekat kepada-Mu ketika kembali menjalani kehidupan dunia. Jadikanlah doa kami sebagai kekuatan, ibadah kami sebagai tuntunan, dan kehadiran kami sebagai manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan sesama manusia.

Sebab pada akhirnya, perjalanan menuju Baitullah bukan hanya perjalanan menuju tempat yang suci, tetapi juga perjalanan menemukan kembali hati yang ingin kembali kepada Ilahi.

Masjidil Haram, Jumat yang penuh makna. Semoga langkah kaki meninggalkan Tanah Suci, tetapi hati tetap terpaut kepada Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *