Mengenal Virgosa Landry Darmanta, dari Penggemar Anime hingga Menjadi Guru Bahasa Jepang di SMA Gema 45

Profil11 Dilihat

SURABAYA | kabargema45.com — Siapa sangka, ketertarikan terhadap musik Jepang, anime, dan manga sejak masa sekolah dapat menjadi bagian dari perjalanan seseorang dalam menekuni dunia pendidikan? Bagi Virgosa Landry Darmanta, S.Pd., atau yang akrab dikenal sebagai Virgo Sensei, ketertarikan tersebut berkembang menjadi cita-cita yang kini dijalani sebagai guru Bahasa Jepang di SMA dan SMK Gema 45 Surabaya.

Jumat, 23 Oktober 2026

Lahir pada 23 Agustus 1993, Virgo telah menekuni dunia pendidikan sejak 2013. Lebih dari sekadar mengajarkan bahasa asing, ia memiliki pandangan tersendiri tentang peran seorang guru, potensi siswa, hingga bagaimana teknologi dapat mendukung proses pembelajaran.

Perjalanan pendidikan Virgo dimulai di SDN Ketintang 1 Surabaya, kemudian berlanjut di SDN Jeruk 2 Surabaya setelah keluarganya pindah rumah. Ia menempuh pendidikan menengah pertama di SMPN 28 Surabaya sebelum melanjutkan ke SMA Kemala Bhayangkari 1 Surabaya atau yang dikenal sebagai SMABHAONE.

Ketertarikannya terhadap Jepang tumbuh melalui musik dan lagu Jepang, lalu berkembang ke anime, manga, dan berbagai hal lain yang berkaitan dengan budaya populer Jepang. Ketertarikan tersebut turut mengarahkannya untuk memilih pendidikan yang memiliki pembelajaran Bahasa Jepang.

Setelah lulus SMA, Virgo melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), mengambil program S-1 Pendidikan dan Sastra Bahasa Jepang melalui seleksi masuk perguruan tinggi. Pilihan itu sejalan dengan cita-citanya sejak SMP untuk menjadi guru Bahasa Jepang.

Virgo memulai kariernya sebagai pengajar ekstrakurikuler Bahasa Jepang di MDC School. Perjalanannya kemudian berlanjut ke SD Santa Teresia, SMAN 15 Surabaya, SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo, SMA Kartika Wijaya, dan SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik.

Ia juga sempat berkecimpung di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK), dengan fokus pada pelatihan Bahasa Jepang selama sekitar dua tahun. Ketika pandemi COVID-19 menghambat kegiatan pengiriman peserta ke luar negeri, jalur kariernya mengalami perubahan. Ia kemudian mengajar Bahasa Jepang dalam kegiatan UKM di Universitas Ciputra selama kurang lebih tiga hingga empat tahun.

Perjalanan tersebut akhirnya membawanya ke SMA Gema 45 Surabaya. Pada tahun ketiga mengajar di SMA Gema 45, Virgo juga dipercaya mengajar di SMK Gema 45 Surabaya oleh Yayasan Perjuangan 45.

Bagi Virgo, memilih tempat mengajar bukan semata-mata persoalan penghasilan. Ia lebih mengutamakan kesempatan untuk memberikan kontribusi melalui ilmu yang telah dipelajari dan dikuasainya.

«“Memilih sekolah bukan melihat dari gajinya, tapi apa yang bisa saya beri kepada sekolah itu dengan ilmu-ilmu yang sudah saya pelajari dan saya kuasai.”»

Prinsip tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana ia memandang profesi pendidik. Ia ingin pengetahuan yang dimilikinya dapat memberikan manfaat bagi siswa dan membantu perkembangan sekolah.

Dalam perjalanannya di Gema 45, Virgo mengaku sempat menghadapi kekecewaan terhadap kondisi internal sekolah yang menurut pengamatannya belum sepenuhnya menunjukkan semangat untuk berkembang. Meski demikian, ia tetap berpegang pada tujuan mencerdaskan generasi bangsa dan membantu siswa mencapai potensi terbaik mereka.

Di luar kegiatan mengajar di SMA dan SMK Gema 45, Virgo juga menjalankan kursus Bahasa Jepang daring bernama Anmitsu Japanese Course. Kegiatan tersebut menjadi bagian lain dari kiprahnya dalam mengajarkan Bahasa Jepang.

Kontribusi pembelajaran Bahasa Jepang di lingkungan Gema 45 juga berkaitan dengan terbukanya kesempatan bagi siswa untuk memperoleh pengalaman internasional. Salah satu alumni yang pernah menjadi muridnya telah berangkat menjalani program internship di Jepang melalui program Yayasan Perjuangan 45. Pengalaman ini menjadi salah satu contoh peluang yang dapat dijajaki siswa melalui pendidikan dan program pengembangan yang tersedia.

Di balik profesinya sebagai guru, ada sisi personal Virgo yang tidak lepas dari ketertarikannya terhadap anime. Ketika ditanya karakter anime apa yang ingin diperankannya, ia menyebut dua nama: Jiraiya dari serial Naruto dan Mu La Flaga dari Mobile Suit Gundam SEED.

Pilihan Jiraiya bukan tanpa alasan. Karakter tersebut merupakan salah satu sosok yang menginspirasinya untuk menjadi guru. Sebagai mentor Naruto, Jiraiya memiliki peran dalam membimbing muridnya, sesuatu yang memiliki kaitan dengan profesi yang kini dijalani Virgo.

Sementara itu, Mu La Flaga dipilih karena karakter tersebut menggambarkan manusia biasa dengan tekad kuat. Virgo mengaitkannya dengan semangat untuk terus belajar dan tidak mudah menyerah.

Salah satu ungkapan yang disukainya adalah:
«“Ore wa fukanō o kanō ni suru otoko da kara na!”»

Ungkapan tersebut secara umum bermakna, “Aku adalah pria yang bisa membuat hal yang mustahil menjadi mungkin!”

Bagi Virgo, semangat itu bukan sekadar kalimat dari karakter fiksi. Ia juga memiliki motivasi pribadi yang mencerminkan keyakinannya dalam menjalani profesi sebagai guru.
«“Saya adalah guru yang hebat dan tak tertandingi, dan saya bisa menjadi apa saja di depan murid saya.”»

Keyakinan tersebut berjalan seiring dengan harapannya agar tidak ada murid yang gagal memperoleh ilmu Bahasa Jepang maupun pelajaran kehidupan yang ia bagikan.

Sebagai pendidik Bahasa Jepang, Virgo juga memiliki pandangan mengenai penggunaan teknologi dalam pembelajaran. Dalam wawancara, ia menyebut proyektor, pengeras suara, dan layar interaktif yang disediakan pemerintah sebagai perangkat yang bermanfaat dalam kegiatan belajar mengajar.

Perangkat tersebut dapat membantu guru menyampaikan materi dengan lebih beragam. Dalam pembelajaran Bahasa Jepang, misalnya, materi huruf, kosakata, dan pola kalimat dapat ditampilkan secara visual, sedangkan pengeras suara dapat mendukung kegiatan menyimak.

Namun, bagi Virgo, penggunaan alat pembelajaran tetap perlu berjalan bersama metode yang sesuai. Teknologi dapat membantu menyediakan sarana belajar, tetapi siswa tetap perlu berlatih agar materi yang dipelajari dapat digunakan secara aktif.

Di sisi lain, Virgo menyampaikan bahwa ia tidak melihat tantangan khusus dalam mengajar generasi saat ini karena siswa dapat dijangkau dan dibimbing. Ia justru ingin mengembangkan kemampuannya dalam mengajar siswa penyandang disabilitas.

Menurutnya, setiap siswa memiliki keunikan dan potensi yang tidak selalu dapat dilihat oleh semua orang. Karena itu, memahami karakteristik, kemampuan, dan potensi siswa menjadi hal penting bagi seorang guru.

Selama menjalani kariernya, Virgo memiliki harapan besar terhadap murid-murid yang pernah diajarnya. Ia ingin ilmu yang disampaikan tidak berhenti pada materi pelajaran, tetapi juga dapat menjadi bekal untuk kehidupan selanjutnya.

Ia menilai kemampuan mengatur waktu, pola pikir yang berkembang, sikap yang baik, serta kecepatan berpikir dan merespons sebagai hal penting untuk menghadapi dunia perkuliahan maupun pekerjaan.

Dari perjalanan kariernya sejak 2013 hingga mengajar di SMA dan SMK Gema 45 Surabaya, Virgo terus menekuni bidang yang selaras dengan latar belakang pendidikannya. Pengalamannya di sekolah, perguruan tinggi, dan lembaga pelatihan memperluas ruang pengabdiannya, sementara Anmitsu Japanese Course menjadi salah satu bentuk lain dari aktivitas mengajarnya.

Ketika diminta menyebutkan dua kata yang mendefinisikan dirinya, Virgo menjawab, “Tak tertandingi.” Ungkapan itu mencerminkan keyakinan yang ia bawa dalam menjalani profesinya.

Pada akhirnya, perjalanan Virgo Sensei memperlihatkan pertemuan antara cita-cita masa sekolah, ketertarikan terhadap Jepang, pengalaman panjang dalam dunia pendidikan, dan keinginan untuk membantu siswa berkembang. Dari anime yang menginspirasinya hingga ruang kelas tempat ia mengajar, satu hal tetap menjadi fokusnya: bagaimana ilmu yang dimiliki dapat memberikan manfaat bagi generasi berikutnya. (Nayla/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *