SURABAYA – Minggu, 11 Oktober 2026, Kebun Binatang Surabaya (KBS) tak sekadar menjadi destinasi wisata favorit untuk mengisi akhir pekan. Lebih dari itu, kawasan konservasi ikonik di Kota Pahlawan ini hadir sebagai sarana edukasi terbuka bagi pengunjung, khususnya Generasi Z, untuk belajar merawat dan melestarikan keberagaman satwa agar terhindar dari kepunahan.
Senen, 12 Oktober 2026
Pertanyaannya, mengapa kepedulian terhadap pelestarian satwa ini begitu krusial bagi generasi muda?
Mengunjungi KBS memberikan pengalaman yang unik dan berkesan. Pembelajaran tidak lagi terbatas pada dinding kelas atau buku teks, melainkan lewat interaksi langsung dengan alam.
Sudut Pandang Gen-Z: Belajar Satwa Lebih Asyik di Luar Ruangan.
Pengalaman menyenangkan ini dirasakan langsung oleh Reza (16), salah satu pengunjung muda di KBS. Bagi Reza, ragam spesies endemik Indonesia yang ditangkarkan di KBS memicu rasa ingin tahunya lebih dalam.
“Di sini kita bisa mengenal secara langsung spesies-spesies asli Indonesia yang sebelumnya hanya bisa dilihat di internet. Saya juga sangat penasaran ingin memahami bagaimana tata cara perawatan serta pemberian pakan yang tepat untuk masing-masing hewan,” ujar Reza.
Hal senada diungkapkan oleh Risma (15). Menurutnya, kelengkapan fasilitas edukasi dan papan informasi di KBS dibuat dengan sangat interaktif sehingga mudah dipahami oleh kalangan remaja.
“Fasilitas edukasinya sangat menarik dan informatif. Tempat ini benar-benar bisa dijadikan sarana belajar terbuka. Banyak pelajaran baru yang belum pernah saya dapatkan di luar,” tuturnya penuh antusias.
Pengalaman Luar Ruangan yang Tak Membosankan salah satu pilihan.
Melakukan proses belajar secara outdoor memberikan warna tersendiri bagi Gen-Z. Selain menjadi alternatif rekreasi yang menyegarkan, konsep wisata edukasi ini membuktikan bahwa mempelajari keanekaragaman hayati bisa dikemas secara seru, tidak membosankan, dan tetap kaya akan pengetahuan.
Melalui kunjungan ini, kepedulian Generasi Z terhadap masa depan flora dan fauna Indonesia diharapkan terus tumbuh dimulai dari rasa ingin tahu, berkembang menjadi empati, hingga berujung pada aksi nyata pelestarian alam.
Laporan oleh Tim 2 Kabar Gema 45:
Valen & Meylin


















