jawa Timur 81 Tahun Jangan Hanya Bangga Berprestasi Tetapi Beranilah Membenahi Diri.

Opini47 Dilihat

Oleh: Fadjar Budianto

Sekum DHD 45 JATIM dan Dosen Universitas 45 Surabaya

Delapan puluh satu tahun bukanlah usia yang muda bagi sebuah provinsi. Jawa Timur telah melewati perjalanan panjang dengan segala keberhasilan, perjuangan, dan tantangannya. Namun, di balik berbagai prestasi yang membanggakan, ada pertanyaan mendasar yang patut kita ajukan. “sudahkah kemajuan Jawa Timur benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyatnya?”

Peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur pada 2026 seharusnya tidak berhenti pada seremoni, pidato, dan parade keberhasilan. Momentum ini harus menjadi ruang untuk bercermin, mengevaluasi kebijakan, sekaligus meneguhkan komitmen membangun masa depan yang lebih adil dan sejahtera.

Jawa Timur memiliki modal besar. Sebagai salah satu pusat ekonomi nasional, provinsi ini ditopang sektor industri, perdagangan, pertanian, perikanan, pariwisata, serta UMKM yang tersebar dari perkotaan hingga pelosok desa. Surabaya menjadi pusat perdagangan dan jasa, sementara daerah-daerah lain menyimpan potensi ekonomi yang tidak kalah besar.

Namun, besarnya potensi tidak otomatis menjamin pemerataan kesejahteraan. Pertumbuhan ekonomi harus dibuktikan dengan terbukanya lapangan kerja, meningkatnya pendapatan masyarakat, berkurangnya kemiskinan, dan semakin mudahnya rakyat memperoleh pendidikan serta pelayanan kesehatan yang berkualitas.

“Jangan sampai Jawa Timur terlihat maju dalam angka, tetapi sebagian masyarakatnya masih berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.”

Pertumbuhan ekonomi harus menyentuh rakyat kecil

Salah satu pekerjaan rumah terbesar Jawa Timur adalah memastikan bahwa hasil pembangunan tidak hanya terkonsentrasi di pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Wilayah industri dan perkotaan memang penting, tetapi masyarakat pedesaan, petani, nelayan, buruh, serta pelaku usaha kecil juga harus memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang.

Pemerintah daerah perlu memperkuat UMKM melalui akses pembiayaan, pendampingan usaha, digitalisasi pemasaran, dan kemudahan perizinan. Petani dan nelayan harus memperoleh perlindungan yang memadai agar tidak selalu menjadi pihak yang paling rentan ketika harga produksi meningkat atau harga jual hasil panen menurun.

Di bidang ketenagakerjaan, investasi harus didorong bukan sekadar untuk mengejar angka pertumbuhan, melainkan juga menciptakan pekerjaan yang layak bagi masyarakat setempat. Generasi muda Jawa Timur membutuhkan lebih banyak kesempatan kerja, ruang berwirausaha, dan kepastian bahwa pendidikan yang mereka tempuh dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.

Pendidikan dan kualitas manusia adalah investasi masa depan

Kemajuan suatu daerah tidak cukup diukur dari jalan yang mulus, gedung yang megah, atau kawasan industri yang luas. Ukuran terpenting adalah kualitas manusianya.

Jawa Timur perlu terus meningkatkan mutu pendidikan, memperkuat pendidikan vokasi, dan memastikan bahwa lulusan SMA, SMK, maupun perguruan tinggi memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

Sekolah dan kampus harus menjadi tempat lahirnya generasi yang cerdas, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki keterampilan kerja, serta berkarakter kuat. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan kecerdasan buatan, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, integritas, dan semangat kebangsaan menjadi semakin penting.

Pemerintah daerah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan harus membangun kemitraan yang nyata. Jangan sampai dunia industri membutuhkan tenaga terampil, sementara lulusan pendidikan justru kesulitan mendapatkan pekerjaan karena kompetensinya tidak sesuai dengan kebutuhan pasar.

Pendidikan juga tidak boleh menjadi kemewahan yang hanya dapat dinikmati keluarga mampu. Anak-anak dari keluarga kurang mampu harus tetap memperoleh kesempatan untuk belajar dan meraih cita-cita.

Pembangunan jangan mengabaikan lingkungan

Di tengah percepatan pembangunan, Jawa Timur juga menghadapi tantangan lingkungan yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Persoalan sampah, pencemaran, banjir, kerusakan kawasan pesisir, dan tekanan terhadap sumber daya alam membutuhkan penanganan serius.

Pembangunan ekonomi tidak boleh dibayar dengan kerusakan lingkungan yang akhirnya diwariskan kepada generasi mendatang.

Karena itu, pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota perlu memperkuat pengelolaan sampah dari sumbernya, melindungi kawasan resapan air, memperbaiki tata kelola sungai, dan memastikan kegiatan industri mematuhi standar lingkungan.

Kebijakan lingkungan harus hadir dalam tindakan nyata, bukan hanya menjadi slogan dalam dokumen perencanaan.

Jawa Timur membutuhkan pemerintahan yang hadir dan mendengar

Keberhasilan pemerintahan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya program yang diluncurkan, tetapi juga oleh kemampuannya menjawab persoalan masyarakat secara cepat, tepat, dan transparan.

Masyarakat membutuhkan pelayanan publik yang sederhana, birokrasi yang profesional, anggaran yang dapat dipertanggungjawabkan, serta pejabat yang bersedia mendengar kritik.

Pemerintah provinsi harus memperkuat koordinasi dengan 38 kabupaten/kota agar kebijakan pembangunan tidak berjalan sendiri-sendiri. Setiap program harus memiliki sasaran yang jelas, ukuran keberhasilan yang terukur, dan evaluasi yang terbuka kepada masyarakat.

Keberanian mengevaluasi kekurangan justru menunjukkan kedewasaan dalam memimpin. Mengakui persoalan bukan berarti meniadakan prestasi, melainkan membuka jalan untuk memperbaiki keadaan.

Merawat karakter dan semangat gotong royong

Jawa Timur bukan hanya wilayah dengan potensi ekonomi yang besar. Provinsi ini juga memiliki warisan sejarah perjuangan, budaya yang kaya, dan masyarakat yang dikenal memiliki semangat kerja keras serta keberanian.

Surabaya sebagai Kota Pahlawan menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia dibangun melalui pengorbanan, persatuan, dan keberanian memperjuangkan kepentingan bangsa.

Nilai-nilai tersebut perlu diterjemahkan ke dalam kehidupan masa kini: kejujuran dalam pemerintahan, disiplin dalam bekerja, kepedulian terhadap sesama, serta keberanian melawan korupsi dan ketidakadilan.

Kemajuan tidak akan bertahan lama jika tidak disertai karakter. Karena itu, pembangunan fisik harus berjalan seiring dengan pembangunan moral, budaya, dan kesadaran kebangsaan.

Delapan puluh satu tahun, saatnya melangkah lebih berani

Hari Jadi ke-81 Jawa Timur harus menjadi momentum untuk menetapkan arah pembangunan yang lebih tajam: ekonomi yang inklusif, pendidikan yang berkualitas, lapangan kerja yang layak, lingkungan yang terjaga, dan pemerintahan yang bersih serta melayani.

Masyarakat tentu patut mengapresiasi setiap keberhasilan yang telah dicapai. Namun, apresiasi tidak boleh membuat kita berhenti mengkritisi kekurangan. Sebaliknya, kritik yang bertanggung jawab harus menjadi energi untuk memperbaiki pembangunan.

Masa depan Jawa Timur tidak hanya ditentukan oleh gubernur dan jajaran pemerintahannya. Dunia usaha, akademisi, organisasi masyarakat, generasi muda, dan seluruh warga memiliki tanggung jawab yang sama untuk ikut membangun daerah ini.

Pada usia ke-81, Jawa Timur tidak cukup hanya menjadi provinsi yang besar dan kuat secara ekonomi. Jawa Timur harus menjadi provinsi yang adil, manusiawi, berdaya saing, dan memberikan harapan bagi semua lapisan masyarakat.

Sebab, ukuran keberhasilan pembangunan yang sesungguhnya bukanlah seberapa megah sebuah provinsi terlihat, melainkan seberapa sejahtera rakyatnya, seberapa besar peluang yang terbuka bagi generasi mudanya, dan seberapa kuat kepercayaan masyarakat kepada pemerintahnya.

Selamat Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur, 2026.

“Jawa Timur maju bukan hanya dalam prestasi, tetapi juga dalam pemerataan, keadilan, dan kesejahteraan rakyat.”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *