Oleh: Fadjar Budianto
Dosen Universitas 45 Surabaya
Setiap 1 Oktober kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Upacara digelar, bendera dikibarkan, ikrar dibacakan. Setelah itu, kehidupan berjalan seperti biasa.
Pertanyaannya: apakah Pancasila juga kembali menjadi “biasa-biasa saja” setelah upacara selesai?
Pertanyaan ini penting. Sebab tantangan terhadap Pancasila hari ini tidak selalu datang dalam bentuk gerakan politik atau ancaman ideologis seperti yang pernah dihadapi bangsa Indonesia pada masa lalu. Ancaman itu kini bisa datang lebih senyap, lebih cepat, bahkan masuk ke ruang pribadi kita melalui telepon pintar.
Hoaks, ujaran kebencian, intoleransi, fanatisme kelompok, politik identitas, perundungan digital, dan budaya saling mencaci di media sosial adalah sebagian dari tantangan kehidupan kebangsaan hari ini.
Jika dahulu ideologi diuji di lapangan, kini nilai-nilai Pancasila juga sedang diuji di ruang digital.
Karena itu, pertanyaan tentang kesaktian Pancasila hari ini bukan hanya apakah Pancasila mampu bertahan, tetapi apakah kita masih mampu menghidupkannya.
Pancasila bukan pajangan
Kita sangat mudah menemukan lambang Garuda Pancasila. Di sekolah, kantor pemerintahan, kampus, ruang rapat, bahkan berbagai gedung lembaga negara.
Tetapi Pancasila tidak pernah dimaksudkan untuk sekadar menjadi pajangan.
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa tidak cukup hanya dihafalkan. Ia harus tercermin dalam sikap saling menghormati.
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab tidak cukup ditulis di buku pelajaran. Ia harus terlihat ketika kita memperlakukan orang lain.
Persatuan Indonesia tidak cukup diteriakkan dalam upacara. Ia harus hadir ketika kita berhadapan dengan orang yang berbeda suku, agama, pilihan politik, latar belakang maupun pandangan.
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan tidak seharusnya berhenti pada teori. Ia harus menjadi budaya berdialog dan bermusyawarah.
Dan keadilan sosial bukan sekadar kalimat indah. Ia merupakan cita-cita yang harus terus diperjuangkan dalam kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, ukuran pengamalan Pancasila sebenarnya sederhana: bukan seberapa sering kita mengucapkannya, tetapi seberapa nyata kita menjalankannya.
Ujian Pancasila berpindah ke layar
Perubahan teknologi telah mengubah cara manusia berkomunikasi.
Dulu, sebuah kabar membutuhkan waktu berhari-hari untuk menyebar. Kini, sebuah informasi dapat beredar ke seluruh negeri hanya dalam hitungan menit.
Masalahnya, kecepatan informasi tidak selalu diikuti kebenaran informasi.
Kita bisa melihat bagaimana sebuah potongan video, foto, atau pernyataan yang tidak utuh dapat menimbulkan kesalahpahaman. Perbedaan pendapat dapat berubah menjadi permusuhan. Orang yang berbeda pilihan dapat dengan mudah diberi label dan diserang.
Di sinilah nilai Pancasila mendapatkan ujian baru.
Apakah kita menggunakan teknologi untuk mempererat persatuan atau justru memperbesar perpecahan?
Apakah jempol kita digunakan untuk menyebarkan informasi yang bermanfaat, atau untuk menyebarkan kebencian?
Apakah kebebasan berbicara kita gunakan dengan tanggung jawab, atau justru menjadi alasan untuk merendahkan orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terlihat sederhana. Tetapi jawabannya akan ikut menentukan wajah Indonesia di masa depan.
Generasi muda adalah medan perjuangan berikutnya
Ada satu kelompok yang harus menjadi perhatian utama: generasi muda.
Anak-anak yang sekarang duduk di bangku SMP, SMA, SMK dan perguruan tinggi akan menjadi pemimpin Indonesia pada masa mendatang.
Mereka hidup dalam dunia yang jauh lebih terbuka dibanding generasi sebelumnya. Mereka dapat mengakses informasi dari seluruh dunia. Mereka juga akan hidup berdampingan dengan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang terus berkembang.
Karena itu, pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan manusia yang pintar.
Indonesia membutuhkan manusia yang pintar sekaligus berkarakter.
Kita membutuhkan generasi yang mampu menggunakan teknologi, tetapi tidak diperbudak teknologi.
Generasi yang kritis, tetapi tidak kehilangan kesantunan.
Generasi yang berani berbeda pendapat, tetapi tidak kehilangan persaudaraan.
Generasi yang memiliki wawasan global, tetapi tidak kehilangan jati diri kebangsaannya.
Di sinilah pendidikan Pancasila harus menemukan kembali relevansinya.
Pancasila harus hadir dalam kehidupan sekolah dan kampus, bukan hanya dalam mata pelajaran atau upacara.
Nilai gotong royong harus dipraktikkan.
Musyawarah harus dibiasakan.
Kepedulian sosial harus ditumbuhkan.
Disiplin dan tanggung jawab harus menjadi budaya.
Perbedaan harus dikenalkan sebagai kekayaan, bukan ancaman.
Dengan cara itulah Pancasila berubah dari pengetahuan menjadi karakter.
Keteladanan lebih kuat daripada ceramah
Ada persoalan lain yang tidak kalah penting: keteladanan.
Kita tidak bisa hanya meminta generasi muda mencintai Pancasila jika orang dewasa di sekitarnya justru memberikan contoh sebaliknya.
Anak-anak belajar persatuan bukan hanya dari buku, tetapi dari bagaimana orang dewasa menyelesaikan perbedaan.
Mereka belajar toleransi bukan hanya dari definisi, tetapi dari bagaimana lingkungan memperlakukan orang yang berbeda.
Mereka belajar keadilan bukan hanya dari pelajaran di kelas, tetapi dari apa yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, pendidikan Pancasila yang paling kuat sesungguhnya adalah keteladanan.
Guru harus menjadi teladan.
Orang tua harus menjadi teladan.
Pemimpin harus menjadi teladan.
Tokoh masyarakat harus menjadi teladan.
Dan kita semua harus menjadi teladan.
Sebab generasi muda lebih mudah meniru apa yang mereka lihat daripada mengingat apa yang kita katakan.
Jangan berhenti pada upacara
Hari Kesaktian Pancasila harus menjadi momentum untuk melakukan introspeksi.
Jangan sampai Pancasila hanya ramai ketika upacara berlangsung, tetapi sepi ketika kita kembali menghadapi persoalan kehidupan.
Jangan sampai kita fasih mengucapkan “Persatuan Indonesia”, tetapi mudah memusuhi saudara sebangsa hanya karena berbeda pilihan.
Jangan sampai kita berbicara tentang kemanusiaan, tetapi mudah menghina orang lain di media sosial.
Jangan sampai kita berbicara tentang musyawarah, tetapi tidak mau mendengar pendapat yang berbeda.
Dan jangan sampai kita mengajarkan Pancasila kepada anak-anak, tetapi gagal memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila harus membawa kita dari hafalan menuju pengamalan, dari slogan menuju keteladanan, dan dari seremoni menuju aksi.
Pancasila harus hidup
Sejarah memberikan pelajaran bahwa bangsa Indonesia pernah melewati berbagai ujian berat. Pancasila menjadi salah satu fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Namun, setiap generasi memiliki tantangannya sendiri.
Generasi sekarang menghadapi tantangan yang tidak kalah serius: disrupsi teknologi, banjir informasi, polarisasi sosial, perubahan budaya dan masuknya berbagai nilai global.
Karena itu, tugas generasi hari ini bukan sekadar menjaga Pancasila agar tetap tertulis dalam konstitusi dan terpampang di dinding.
Tugas kita adalah membuat Pancasila tetap hidup dalam perilaku masyarakat Indonesia.
Kesaktian Pancasila tidak cukup dibuktikan dengan upacara setahun sekali.
Ia harus dibuktikan setiap hari.
Di rumah ketika kita menghormati anggota keluarga.
Di sekolah ketika kita menghargai teman.
Di kampus ketika kita berdialog dengan mereka yang berbeda pandangan.
Di tempat kerja ketika kita berlaku adil.
Di masyarakat ketika kita bergotong royong.
Dan di dunia digital ketika kita memilih untuk tidak menyebarkan kebencian.
Pancasila sakti dalam sejarah. Tetapi kesaktiannya di masa depan sangat bergantung pada kita.
Sebab pada akhirnya, Pancasila tidak membutuhkan lebih banyak orang yang sekadar mampu menghafalnya.
Pancasila membutuhkan lebih banyak manusia Indonesia yang mau menghidupkannya.
Pancasila Sakti untuk kemakmuran dan kesejahteraan Seluruh Bangsa Indonesia


















